Sabtu, 18 Maret 2017

AkuPengagumMuDariJauh Part2

Ini aku, namun bukanlah aku yang biasa bercerita tentang aku pada cerita sebelumnya. Jadi tak ada hubungannya dengan cerita yang kemarin. Ini hanya aku yang lain, yang ingin bercerita meluapkan perasaan yang kian hari menggunung tanpa dicurahkan.

***



Aku adalah pengagummu sejak SMA, dan sekarang sudah memasuki tahun ketujuh dan aku masih setia. Bagiku, segala hal tentangmu adalah sesuatu yang paling asyik untuk kucerna, pembahasan yang selalu membuatku antusias, tak ada habisnya.



Aku senang dengan hal sederhana yang kamu lakukan padaku: notifikasi postingan baru darimu, saat kamu menyukai postinganku di sosial media, apa lagi ada komentarmu tersemat di sana. Maka akan ada lengkung senyum di wajahku, kemudian tanpa lama menambahlah koleksi screenshoot di galeri.



Aku akan senang bukan kepalang, ketika di grup angkatan kita semua membahas sesuatu. Maka aku akan menunggu moment yang tepat untuk berkomentar. Aku diam, menatap layar smartphone dan akan menekan tombol kirim setelah komentar darimu. Seolah kita sedang bersama setidaknya diwakili oleh chatingan kita yang berdampingan.



Atau pernah juga, di suatu reuni, kita semua berbaur. Aku duduk dari jauh, bercanda bersama teman-teman, kemudian diam-diam aku mencuri pandang padamu. Melihat bagaimana caramu mengedipkan mata, juga bagaimana kamu berbicara  dengan pelan kemudian menutup mulut dengan tangan saat tertawa. Maka ketika foto bersama, aku akan berusaha mencari cara bagaimana agar aku bisa berdiri di sebelahmu, ya, lagi-lagi agar seolah kita sedang berdua. Dan cekrek! Berhasil. Barangkali itulah satu-satunya foto yang aku benar-benar di sebelahmu.



Tentang foto, aku adalah penyenang fotografi sedari dulu. Kamu tahu itu. Kamu tahu objek apa yang paling kusenangi saat mengambil foto? Ya, itu, saat objeknya adalah dirimu. Aku senang dengan seni bagaimana cara mengambil gambarmu diam-diam, pelan-pelan kemudian tatapanmu menyergap mataku yang sedang mengekermu di dalam lensa. Dan senang saat aku berhasil mengambil gambarmu dengan sempurna. Maka akan kusimpan atau kuunggah foto itu, dan ada rasa kepuasan tersendiri saat bisa menandaimu di sana, walau tak berdua, walau kau sedang bersama teman lainnya. Tak apa.





Aku pernah kecewa juga padamu, saat SMA dulu kamu malah pacaran dengan orang lain dan kemudian bahagia saat tahu bahwa kamu putus. Andai akulah yang jadi lelakimu saat itu, aku tak akan menyianyiakanmu. Sayangnya lelakimu saat itu bukan aku.



Terima kasih untuk banyak hal sederhana yang kamu tak menyadarinya namun cukup membuatku bahagia. Aku ingin meminta maaf sebelumnya, karena pernah suatu ketika, aku mengedit foto kita menjadi berdampingan. Hahaha. Juga pernah mengedit satu wajah berisi setengah-setengah dari wajah kita. Kau tahu? ini bikinnya susah. Aku harus menyesuaikan gaya foto dengan fotomu yang kuunggah dari sosila media. Entah berapa banyak foto yang kuambil, seeblum akhirnya berhasil.





Aku mau tanya, kamu pernah gak? nyusun kata, bagaimana harus menyapa saat kita bersua. Aku pernah, aku akan menyusun kalimat untuk banyak kemungkinan saat kita berjumpa, dan naasnya aku tak berani melontarkannya selain sapaan hey dan senyum yang kubuat semanis mungkin.



Ya, bagiku, bahagia itu sederhana: saat melihat senyummu, saat kau balas pesanku, saat kau menyukai postinganku, saat kau wisuda atau saat kamu mengucapkan selamat ulang tahun. Namun, kesedihan pun jadinya sederhana: saat melihatmu sedih, saat pesanku hanya dibaca, saat tak kutemui dirimu di timeline, saat kau kenapa-kenapa atau yang paling sakit adaalah saat kudapati kamu berfoto berdua dengan temanku. Apa yang kubisa, selain menghela napas panjang dan berdoa agar kau tetap bahagia?





Mungkin aku jatuh cinta padamu. Aku tak tahu apakah kamu tahu tentang ini atau tidak. Jujur, kadang aku dilema antara terus berjuang atau melupakan. Banyak orang yang bilang agar aku melupakanmu tersebab oleh kamu sudah bersama orang lain. Ah, sayangnya mereka belum tahu, hal apa yang sudah kulalui. Hal-hal yang sudah kulakukan.



Jadi, apa yang harus kulakukan sekarang? Barangkali, ingin jadi diri sendiri, menjadi pengagummu dari jauh yang suatu saat akan menjadi pengagummu dari dekat. Ya, aku bukan Dia yang bisa mengungkapkan cinta dengan terang-teangan. Maaf.

***



Ah, pokoknya, kalau kita jodoh, pacarmu bisa apa, kan? Semoga.

Pengagum dari jauh

Aku adalah pengagummu sejak dulu. Mengagumimu dari jauh.



Aku ingat, saat SMA, aku akan datang lebih pagi. Duduk depan kelas atau menunggu di lantai dua. Kebanyakan bukan untuk belajar melainkan untuk bisa melihat gerikmu dari jauh. Kemudian merasa senang saat melihatmu baru datang, berjalan melewati lapangan upacara bersama temanmu sambil berbincang kadang dengan tawa.



Aku ingat, di sampingku ada teman, ia bilang menyukaimu. Aku hanya bisa memberi saran sembari memendam.



Aku ingat, saat sedang upacara bendera di Senin pagi. Aku bisa melihatmu di jajaran kelasmu. Tak sulit untuk menemukan sosokmu yang termasuk tinggi dan putih dan ceria, dan banyak yang suka. Sementara pembina upacara menyampaikan petuah, aku mencuri pandang padamu dengan sumringah.



Atau ketika pulang, atau libur, atau sedang pergi ke suatu tempat. Pulangnya, aku akan mengambil jalan memutar walau kutahu itu memakan waktu lama. Demi apa? Ya, demi melewati rumahmu. Maka aku akan memelankan laju motorku, dengan mata seolah mencari, namun sebagian besar selalu tak kutemukanmu. Namun aku tak pernah kapok untuk melakukannya. Hingga pernah sesekali, aku melihatmu berjalan menuju rumah. Aku jadi tahu bagaimana cantiknya kamu tanpa seragam. Maka motor akan aku pelankan, mataku mencuri pandang dan kemudian merasa senang. Ingin rasanya turun, menyapa, namun tak kulakukan.



Banyak orang yang menyukaimu, tentu saja, kamu adalah paket lengkap di sekolah. Cantik, baik dan juga juara kelas. Sementara aku bukan siapa-siapa. ***



Untuk pagi ini, itu dulu ceritanya. Bagaimana bila nanti dilanjut? Iya, terima kasih..