Kamis, 17 November 2016
Senin, 31 Oktober 2016
Rabu, 19 Oktober 2016
Selasa, 04 Oktober 2016
Selasa, 20 September 2016
Minggu, 11 September 2016
Rabu, 31 Agustus 2016
Rabu, 24 Agustus 2016
Senin, 22 Agustus 2016
Jumat, 19 Agustus 2016
Jumat, 05 Agustus 2016
Senin, 01 Agustus 2016
Selasa, 26 Juli 2016
Minggu, 24 Juli 2016
Minggu, 17 Juli 2016
Jumat, 08 Juli 2016
Kamis, 07 Juli 2016
Rabu, 06 Juli 2016
Minggu, 03 Juli 2016
Kunci Hatiku Masih Belum Kamu Kembalikan
"Entah sampai kapan hati ini tertutup untuk orang yang bukan dirimu."
Delapan bulan berlalu setelah kamu memutuskan untuk pergi dari kehidupanku, hati ini masih tetap sama seperti awal aku memulai hubungan denganmu. Aku masih mencintaimu. Tapi tidak sedikitpun ada tanda-tanda kamu memiliki perasaan yang sama sepertiku.
Rasanya belum cukup, dan tak akan pernah cukup mengenalmu, mengetahui seluruh sifat baik burukmu hanya dalam satu tahun saja. Aku masih membutuhkan berpuluh-puluh tahun lagi untuk itu. Namun, keinginanmu tidak sebesar keinginanku. Kadar cintamu tidak sebesar kadar cintaku. Perjuanganmu tidak sebesar perjuanganku. Kamu memutuskan untuk pergi dari kehidupanku dengan berbagai alasan yang menurutku terlalu klise. Namun, sebagai orang yang mencintaimu tanpa kecuali, aku mencoba menerima dengan lapang semua alasan-alasan klisemu dan terus berprasangka baik kepadamu.
Meskipun banyak menuai kontraversi atas semua alasanmu, terutama dari teman-temanku yang tidak percaya bahwa itu alasan real-mu yang membuat kamu ingin segera pergi dari kehidupanku, aku tetap tidak memandangmu sebelah mata. Aku tetap mencintaimu, tidak melihat sedikitpun kekuranganmu, tidak melihat seberapa sering kamu membuat aku kecewa, tidak mempedulikan seberapa banyak anggapan buruk tentangmu. Aku hanya mencintaimu tanpa karena.
Entah sampai kapan perasaan ini ada. Aku hanya tidak ingin memaksakan hatiku untuk menghapus semua rasa cintaku dan memaksa hatiku untuk melupakanmu, aku anggap itu semua hanya percuma karena akan sangat sulit. Biarkan fase ini berlalu termakan waktu, tanpa adanya paksaan.
Meskipun kamu sama sekali sudah tidak mencintaiku lagi, tetap, aku akan membiarkan perasaan ini mengalir dan membiarkan perasaan ini hilang dengan sendirinya. Kalaupun suatu hari nanti Tuhan memberikan keajaiban sehingga kamu kembali lagi kepadaku, aku akan menerimamu dengan hati terbuka, tanpa mengingat semua kesalahanmu, semua kekecewanku karenamu, tanpa melihat semua anggapan-anggapan buruk tentangmu.
Sungguh aku tidak mengerti, kali pertama aku di buat segila ini oleh seorang perempuan, perempuan yang dingin, cuek-nya bikin laki laki makan hati terus, dan jauh dari kata romantis. Tentu sifat-sifat seperti itu menurut sebagian laki laki pasti enggak banget. Anehnya, aku malah sebaliknya, tergila-gila oleh sosok yang 'enggak banget' itu.
Saat ini keadaan sudah sangat berbeda, aku dan kamu sudah jadi dua orang asing yang memiliki dunia masing-masing. Mengingat semua kenangan dulu, memang tak seindah kisah pasangan-pasangan romantis tapi ini cukup melekat di hati dan pikiran.
Delapan bulan berlalu setelah kamu memutuskan untuk pergi dari kehidupanku, hati ini masih tetap sama seperti awal aku memulai hubungan denganmu. Aku masih mencintaimu. Tapi tidak sedikitpun ada tanda-tanda kamu memiliki perasaan yang sama sepertiku.
Rasanya belum cukup, dan tak akan pernah cukup mengenalmu, mengetahui seluruh sifat baik burukmu hanya dalam satu tahun saja. Aku masih membutuhkan berpuluh-puluh tahun lagi untuk itu. Namun, keinginanmu tidak sebesar keinginanku. Kadar cintamu tidak sebesar kadar cintaku. Perjuanganmu tidak sebesar perjuanganku. Kamu memutuskan untuk pergi dari kehidupanku dengan berbagai alasan yang menurutku terlalu klise. Namun, sebagai orang yang mencintaimu tanpa kecuali, aku mencoba menerima dengan lapang semua alasan-alasan klisemu dan terus berprasangka baik kepadamu.
Meskipun banyak menuai kontraversi atas semua alasanmu, terutama dari teman-temanku yang tidak percaya bahwa itu alasan real-mu yang membuat kamu ingin segera pergi dari kehidupanku, aku tetap tidak memandangmu sebelah mata. Aku tetap mencintaimu, tidak melihat sedikitpun kekuranganmu, tidak melihat seberapa sering kamu membuat aku kecewa, tidak mempedulikan seberapa banyak anggapan buruk tentangmu. Aku hanya mencintaimu tanpa karena.
Entah sampai kapan perasaan ini ada. Aku hanya tidak ingin memaksakan hatiku untuk menghapus semua rasa cintaku dan memaksa hatiku untuk melupakanmu, aku anggap itu semua hanya percuma karena akan sangat sulit. Biarkan fase ini berlalu termakan waktu, tanpa adanya paksaan.
Meskipun kamu sama sekali sudah tidak mencintaiku lagi, tetap, aku akan membiarkan perasaan ini mengalir dan membiarkan perasaan ini hilang dengan sendirinya. Kalaupun suatu hari nanti Tuhan memberikan keajaiban sehingga kamu kembali lagi kepadaku, aku akan menerimamu dengan hati terbuka, tanpa mengingat semua kesalahanmu, semua kekecewanku karenamu, tanpa melihat semua anggapan-anggapan buruk tentangmu.
Sungguh aku tidak mengerti, kali pertama aku di buat segila ini oleh seorang perempuan, perempuan yang dingin, cuek-nya bikin laki laki makan hati terus, dan jauh dari kata romantis. Tentu sifat-sifat seperti itu menurut sebagian laki laki pasti enggak banget. Anehnya, aku malah sebaliknya, tergila-gila oleh sosok yang 'enggak banget' itu.
Saat ini keadaan sudah sangat berbeda, aku dan kamu sudah jadi dua orang asing yang memiliki dunia masing-masing. Mengingat semua kenangan dulu, memang tak seindah kisah pasangan-pasangan romantis tapi ini cukup melekat di hati dan pikiran.
Rabu, 29 Juni 2016
Terimaksih ibu
"Kasih ibu, kepada beta. Tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia."
Mama adalah seseorang yang paling mengerti tentang diriku, anaknya.. Mama selalu memberikan semangat kepadaku. Yang tak akan pernah engkau tukar dengan apapun.
Ada kata kata mama yang aku sukai, yaitu “apa yang terjadi dengan kondisiku merupakan takdir Allah. Wujud kasih sayang Allah terhadapku, dan terdapat rahasia Allah yang indah di balik penciptaanNya terhadapku. Karena tidak ada manusia yang sempurna, semua manusia terlahir dengan kekurangan dan kelebihan, mungkin saja ada kekurangan mereka yang tidak tampak oleh mata manusia.”
Ketika aku mengenal cinta, mulai menyukai ‘lawan jenis’, mamalah orang yang pertama kali kuberitahu. Mama menjadi pendengar yang baik untukku, bukan hanya itu, mama juga menjadi penasehat yang baik untukku. Aku merasa aman mengeluarkan apa yang ada di hati dan pikiranku, kepadanya. Karena aku tahu mama tidak akan menceritakan pada siapa pun.
Begitupun di saat aku patah hati, lagi-lagi aku mengadukannya kepadamu mama. Mama menenangkanku, menghentikan tangisku, dan mengatakan kepadaku “bahwa dia perempuan yang baik, tapi mungkin bukan jodohmu, jangan membencinya yang sudah pernah membuatmu bahagia, dan berada di sampingmu.” Karena perkataanmu mama, aku sama sekali tidak membencinya. Aku malah menjadi sedikit lebih dewasa dengan hal tersebut.
Mama, aku terus terusan membutuhkanmu, merepotkanmu. Sampai dengan sekarang ini. Aku selalu membutuhkanmu. Aku tak tahu apa aku bisa jadi setegar ini tanpa adanya dirimu yang menyemangatiku. Mama begitu berarti untukku. Kalau mama adalah wanita yang hebat, seorang ibu yang luar biasa. Yang mampu memberikan cinta dan semangat hidup terhadap anaknya . Maafkan aku, sering membuat hatimu sakit dengan sikapku yang menjengkelkan.
Terimakasih untuk semuanya yang sudah engkau berikan kepadaku mama, cintamu, kasih sayangmu, pengorbananmu. Terimakasih juga telah menjadi seseorang yang paling mengerti dan memahamiku, dan selalu jadi penyemangat dalam hidupku. Aku bangga menjadi anakmu, yang terlahir dari rahimmu, aku mencintaimu mama, sangat menyayangimu. You're the Best.
“Ibu Terimakasih untuk kasih sayang yang tak pernah usai, tulus cintamu takkan mampu untuk terbalaskan
Mama adalah seseorang yang paling mengerti tentang diriku, anaknya.. Mama selalu memberikan semangat kepadaku. Yang tak akan pernah engkau tukar dengan apapun.
Ada kata kata mama yang aku sukai, yaitu “apa yang terjadi dengan kondisiku merupakan takdir Allah. Wujud kasih sayang Allah terhadapku, dan terdapat rahasia Allah yang indah di balik penciptaanNya terhadapku. Karena tidak ada manusia yang sempurna, semua manusia terlahir dengan kekurangan dan kelebihan, mungkin saja ada kekurangan mereka yang tidak tampak oleh mata manusia.”
Ketika aku mengenal cinta, mulai menyukai ‘lawan jenis’, mamalah orang yang pertama kali kuberitahu. Mama menjadi pendengar yang baik untukku, bukan hanya itu, mama juga menjadi penasehat yang baik untukku. Aku merasa aman mengeluarkan apa yang ada di hati dan pikiranku, kepadanya. Karena aku tahu mama tidak akan menceritakan pada siapa pun.
Begitupun di saat aku patah hati, lagi-lagi aku mengadukannya kepadamu mama. Mama menenangkanku, menghentikan tangisku, dan mengatakan kepadaku “bahwa dia perempuan yang baik, tapi mungkin bukan jodohmu, jangan membencinya yang sudah pernah membuatmu bahagia, dan berada di sampingmu.” Karena perkataanmu mama, aku sama sekali tidak membencinya. Aku malah menjadi sedikit lebih dewasa dengan hal tersebut.
Mama, aku terus terusan membutuhkanmu, merepotkanmu. Sampai dengan sekarang ini. Aku selalu membutuhkanmu. Aku tak tahu apa aku bisa jadi setegar ini tanpa adanya dirimu yang menyemangatiku. Mama begitu berarti untukku. Kalau mama adalah wanita yang hebat, seorang ibu yang luar biasa. Yang mampu memberikan cinta dan semangat hidup terhadap anaknya . Maafkan aku, sering membuat hatimu sakit dengan sikapku yang menjengkelkan.
Terimakasih untuk semuanya yang sudah engkau berikan kepadaku mama, cintamu, kasih sayangmu, pengorbananmu. Terimakasih juga telah menjadi seseorang yang paling mengerti dan memahamiku, dan selalu jadi penyemangat dalam hidupku. Aku bangga menjadi anakmu, yang terlahir dari rahimmu, aku mencintaimu mama, sangat menyayangimu. You're the Best.
“Ibu Terimakasih untuk kasih sayang yang tak pernah usai, tulus cintamu takkan mampu untuk terbalaskan
Jumat, 24 Juni 2016
Hatiku Tengah Patah Karnamu, Kenapa Kau Tega ?
Hai hatiku, Apa kabarmu ? masihkah kau memilih untuk meringkuk disudut tergelap ruangan, atau kau malah masih berkutat dengan memunguti tiap buliran airmata yang menggenang disetiap malam-malam panjang. Mungkinkah kau juga tengah menikmati hingar bingar keramaian namun masih merasa sepi, atau kau belum juga menghilangkan kebiasaanmu yang memilih tersenyum dan bersembunyi dibalik topeng 'aku baik-baik saja'. Hai hatiku, kau adalah sumber 'bernyawa'nya kehidupanku, diatas segala remuk redammu. Hatiku yang terserak dan tertatih mencoba bangkit dari keterpurukan..
Wahai hati, tulisan ini untukmu..
Kehilangan sosok terkasih tentu bukan termasuk agenda yang kau rencanakan, entah di tinggalkan atau meninggalkan semua memiliki rasa yang rumit untuk dijabarkan, percayalah..
Ketika kita merasa memiliki, ia akan semakin cepat diambil dari sisi kita, begitupun dengan cinta.
hatiku yang tengah patah tentu kini kau merasakan luka dan perih yang menjalar mesra menggerogoti setiap syaraf bernama kesadaran, perlahan kau bermetamorfosis menuju mati rasa. Sah bagimu untuk menangis berhari-hari, meluapkan sakit dengan amarah, menyendiri dan membenci banyak hal.
Tak perlu lagi mencoba tegar berlindung dibalik senyum palsu dan kalimat paling bulshit sejagad raya – aku baik baik saja – Kau berhak menguapkan rasa sakitmu, entah pada dunia atau pada sajadahmu.
Aku paham, caramu membebat luka hanyalah kamuflase yang kau tampakkan pada dunia, luka itu masih ada dan berdarah akibat goresan tajamnya cinta yg salah. Kau sedang mencoba berdamai dengan waktu dan logika, kau belajar memaknai ikhlas sebagai part terwajib dalam drama hidupmu.
Wahai hatiku..apapun opsi yang kamu pilih, yakinilah bahwa sakit itu hanya sementara,
meski bagian tersulitnya adalah menghapus bekas luka.. memaafkan dan berdamai dengan amarah. Memang bukan perkara mudah, terlebih lagi luka yang di sebabkan oleh orang yang paling kita cintai, paling kita percayai..namun itu hanya sedikit pertanda dr sang Maha pemilik semesta, bahwa kita tidak tinggal di surga, melainkan di dunia tempat dimana kita harus belajar memperjuangkan atau belajar mengikhlaskan.
Hatiku yg patah adalah bukti bahwa kau bernyawa, bahwa aku manusia yang memiliki hati..
menangislah seperlunya…
berteriaklah semampunya… tapi jangan pernah menyerah, keluarlah sebagai pemenang tak perduli meski harus bersimbah darah..
Pemenang adalah mereka yang mampu berdamai dengan amarahnya…
Wahai hatiku.. bersabarlah, Allah tengah menghitung setiap inci lukamu dan Dia akan segera menggantinya dg bahagia. Hanya soal waktu, meski mungkin terasa sedikit lama, tetaplah percaya.. Janji Allah itu nyata, dan akan datang tepat pada waktunya.
Dariku, yang ingin kau bahagia..
Kamis, 23 Juni 2016
Rabu, 22 Juni 2016
Satria fu modifikasi 2014
<img class="alignnone size-full wp-image-18" src="https://asepcevot69.files.wordpress.com/2016/06/satria-fu-modifikasi-2014.jpg" alt="Satria fu modifikasi 2014" width="2560" height="1920" />
Satria fu modifikasi 2014
<img class="alignnone size-full wp-image-18" src="https://asepcevot69.files.wordpress.com/2016/06/satria-fu-modifikasi-2014.jpg" alt="Satria fu modifikasi 2014" width="2560" height="1920" />
Selasa, 21 Juni 2016
Jodoh Jodoh Jodoh
Jodoh itu di tangan siapa? Maka, nyaris 100% kita
akan menjawab, di tangan Allah. Benar, bukan?
Apakah itu jawaban kalian?
Nah, jika itu jawabannya, mengapa kita ragu-
ragu, cemas, khawatir, takut jodoh kita akan
tertukar? Pun, kita bahkan tega "mengintervensi
"-nya dengan pacaran, masih SMA, sudah pacaran,
pegang-pegangan tangan, pangku-pangkuan,
dsbgnya. Ini jadinya paradoks, katanya kita tahu
jodoh itu di tangan Allah, tapi kenapa kita
mengambil-alih situasinya, kalau begitu, jangan-
jangan, jawaban asli kita adalah: jodoh itu di
tangan saya. Ya tidak masalah, boleh-boleh saja,
"jodoh di tangan saya", kita bebas mencari jodoh
dengan cara kita, style kita, toh, banyak yang
dapat.
(II)
Bagaimana kita tahu seseorang itu jodoh terbaik
bagi kita? Maka, lagi-lagi nyaris 100% kita akan
menjawab, hanya Allah yang tahu. Benar, bukan?
Apakah itu jawaban kalian?
Kita tidak pernah tahu apakah sesuatu itu akan
mutlak baik atau mutlak buruk bagi kita. Apakah
seseorang itu akan pas, cocok, langgeng hingga
aki-nini, ajal menjemput, atau besok lusa malah
sebaliknya ternyata hancur berantakan, tidak i
love u lagi. Kita tidak tahu. Hanya Allah yang
tahu. Benar begini kan pemahaman kita? Nah,
lantas kenapa, kita mengotot sekali ingin
seseorang tertentu menjadi jodoh kita? Bukankah
kita tidak tahu apakah dia jodoh terbaik atau
bukan? Kenapa kita dalam doa-doa, bahkan
spesifik sekali menyebut nama seseorang? Kalau
begini, jangan-jangan, jawaban asli kita adalah:
saya tahu persis jodoh terbaik bagi saya. Jadinya
malah bertolak-belakang dong. Tapi boleh? Lagi-
lagi, tidak masalah, boleh-boleh saja punya
pemahaman seperti ini, toh, manusia itu memang
boleh egois. Jika kita yakin sekali itu yang
terbaik, bungkus saja, "tidak perlu melibatkan"
Allah.
(III)
Jika jodoh itu di tangan Allah, yang tahu terbaik
juga adalah Allah, lantas apa yang harus saya
lakukan, dong? Kan sudah given begitu, ngapain
pula saya harus capek-capek nyari lagi. Tinggal
tunggu, datang sendiri, toh, semua takdir Allah.
Nah, ini baru pertanyaan menariknya.
Jawabannya simpel: perbaiki diri sendiri.
Sederhana sekali. Bagaimana mencari jodoh
terbaik? Perbaiki diri sendiri. Kita yang SMA,
masih 16 tahun sudah pacaran, tentu saja level
jodoh "terbaik" kita hanya akan satu SMA itu
saja. Coba kalau kita terus memperbaiki diri,
fokus sekolah, hingga bisa kuliah di LN, di Inggris
misalnya, aduh, kans-nya malah lebih menarik,
jangan-jangan levelnya adalah macam bule Brad
Pitt gitu. Apakah mungkin kalau saya SMA sudah
sibuk pacaran dapat Brad Pitt? Mungkin saja,
asumsi kalau bule Brad Pittnya SMA di kampung,
kota kalian.
Perbaiki diri sendiri, itulah jawaban hakikinya,
termasuk dalam aspek agama. Saat SMA dengan
dangkalnya pengetahuan agama, maka jodoh
terbaik kita, lagi-lagi kelasnya ya hanya anak
SMA. Tapi jika pengetahuan agama kita dalam,
silaturahmi kita luas, bertemulah kita dengan
pilihan-pilihan lebih baik, misalnya si tampan dari
Korea yang agamanya juga baik, bertemu dalam
sebuah organisasi, aktivitas. Atau si ganteng dari
Turki. Perbaiki diri sendiri dalam hal apapun,
termasuk bergaul di dunia maya. Hei, kalau kita di
dunia maya ini cuma asyik di group alay,
bagaimana mungkin kita akan bertemu dengan
jodoh spesies non-alay? Ini hanya contoh, tidak
perlu tersinggung. Perbaiki diri sendiri, maka
rumusnya akan bekerja sendiri.
(IV)
Terakhir, baiklah, saya sudah percaya jodoh itu
ditangan Allah, mana yang baik juga hanya Allah
yang tahu, saya berjanji akan terus memperbaiki
diri. Lantas, apakah itu menjamin saya akan
dapat jodoh terbaik?
Jawabannya: belum tentu.
Hidup ini tidak pernah soal jamin-menjamin.
Apalagi soal jodoh, mana ada garansi resmi dari
Allah selama lima tahun, tunggu lima tahun, pasti
dapat itu jodoh. Nggak begitu hidup ini berjalan.
Boleh jadi, bahkan kita tidak dapat-dapat juga.
Arghh, berarti rugi dong sayanya? Tidak juga.
Ketahuilah, saat kita terus memperbaiki diri,
ketika kita tidak dapat jodoh terbaik, maka
minimal kita dapat: kita sudah semakin baik.
akan menjawab, di tangan Allah. Benar, bukan?
Apakah itu jawaban kalian?
Nah, jika itu jawabannya, mengapa kita ragu-
ragu, cemas, khawatir, takut jodoh kita akan
tertukar? Pun, kita bahkan tega "mengintervensi
"-nya dengan pacaran, masih SMA, sudah pacaran,
pegang-pegangan tangan, pangku-pangkuan,
dsbgnya. Ini jadinya paradoks, katanya kita tahu
jodoh itu di tangan Allah, tapi kenapa kita
mengambil-alih situasinya, kalau begitu, jangan-
jangan, jawaban asli kita adalah: jodoh itu di
tangan saya. Ya tidak masalah, boleh-boleh saja,
"jodoh di tangan saya", kita bebas mencari jodoh
dengan cara kita, style kita, toh, banyak yang
dapat.
(II)
Bagaimana kita tahu seseorang itu jodoh terbaik
bagi kita? Maka, lagi-lagi nyaris 100% kita akan
menjawab, hanya Allah yang tahu. Benar, bukan?
Apakah itu jawaban kalian?
Kita tidak pernah tahu apakah sesuatu itu akan
mutlak baik atau mutlak buruk bagi kita. Apakah
seseorang itu akan pas, cocok, langgeng hingga
aki-nini, ajal menjemput, atau besok lusa malah
sebaliknya ternyata hancur berantakan, tidak i
love u lagi. Kita tidak tahu. Hanya Allah yang
tahu. Benar begini kan pemahaman kita? Nah,
lantas kenapa, kita mengotot sekali ingin
seseorang tertentu menjadi jodoh kita? Bukankah
kita tidak tahu apakah dia jodoh terbaik atau
bukan? Kenapa kita dalam doa-doa, bahkan
spesifik sekali menyebut nama seseorang? Kalau
begini, jangan-jangan, jawaban asli kita adalah:
saya tahu persis jodoh terbaik bagi saya. Jadinya
malah bertolak-belakang dong. Tapi boleh? Lagi-
lagi, tidak masalah, boleh-boleh saja punya
pemahaman seperti ini, toh, manusia itu memang
boleh egois. Jika kita yakin sekali itu yang
terbaik, bungkus saja, "tidak perlu melibatkan"
Allah.
(III)
Jika jodoh itu di tangan Allah, yang tahu terbaik
juga adalah Allah, lantas apa yang harus saya
lakukan, dong? Kan sudah given begitu, ngapain
pula saya harus capek-capek nyari lagi. Tinggal
tunggu, datang sendiri, toh, semua takdir Allah.
Nah, ini baru pertanyaan menariknya.
Jawabannya simpel: perbaiki diri sendiri.
Sederhana sekali. Bagaimana mencari jodoh
terbaik? Perbaiki diri sendiri. Kita yang SMA,
masih 16 tahun sudah pacaran, tentu saja level
jodoh "terbaik" kita hanya akan satu SMA itu
saja. Coba kalau kita terus memperbaiki diri,
fokus sekolah, hingga bisa kuliah di LN, di Inggris
misalnya, aduh, kans-nya malah lebih menarik,
jangan-jangan levelnya adalah macam bule Brad
Pitt gitu. Apakah mungkin kalau saya SMA sudah
sibuk pacaran dapat Brad Pitt? Mungkin saja,
asumsi kalau bule Brad Pittnya SMA di kampung,
kota kalian.
Perbaiki diri sendiri, itulah jawaban hakikinya,
termasuk dalam aspek agama. Saat SMA dengan
dangkalnya pengetahuan agama, maka jodoh
terbaik kita, lagi-lagi kelasnya ya hanya anak
SMA. Tapi jika pengetahuan agama kita dalam,
silaturahmi kita luas, bertemulah kita dengan
pilihan-pilihan lebih baik, misalnya si tampan dari
Korea yang agamanya juga baik, bertemu dalam
sebuah organisasi, aktivitas. Atau si ganteng dari
Turki. Perbaiki diri sendiri dalam hal apapun,
termasuk bergaul di dunia maya. Hei, kalau kita di
dunia maya ini cuma asyik di group alay,
bagaimana mungkin kita akan bertemu dengan
jodoh spesies non-alay? Ini hanya contoh, tidak
perlu tersinggung. Perbaiki diri sendiri, maka
rumusnya akan bekerja sendiri.
(IV)
Terakhir, baiklah, saya sudah percaya jodoh itu
ditangan Allah, mana yang baik juga hanya Allah
yang tahu, saya berjanji akan terus memperbaiki
diri. Lantas, apakah itu menjamin saya akan
dapat jodoh terbaik?
Jawabannya: belum tentu.
Hidup ini tidak pernah soal jamin-menjamin.
Apalagi soal jodoh, mana ada garansi resmi dari
Allah selama lima tahun, tunggu lima tahun, pasti
dapat itu jodoh. Nggak begitu hidup ini berjalan.
Boleh jadi, bahkan kita tidak dapat-dapat juga.
Arghh, berarti rugi dong sayanya? Tidak juga.
Ketahuilah, saat kita terus memperbaiki diri,
ketika kita tidak dapat jodoh terbaik, maka
minimal kita dapat: kita sudah semakin baik.
Kita
bukan lagi si anak SMA dulu, kita sudah menjadi
seseorang yang terus bermanfaat dan senantiasa
berahklak baik.
Dek, dalam banyak situasi, itu jauh lebih penting
dibanding jodohnya itu sendiri. Percayalah.
bukan lagi si anak SMA dulu, kita sudah menjadi
seseorang yang terus bermanfaat dan senantiasa
berahklak baik.
Dek, dalam banyak situasi, itu jauh lebih penting
dibanding jodohnya itu sendiri. Percayalah.
Jodoh Jodoh Jodoh
Jodoh itu di tangan siapa? Maka, nyaris 100% kita
akan menjawab, di tangan Allah. Benar, bukan?
Apakah itu jawaban kalian?
Nah, jika itu jawabannya, mengapa kita ragu-
ragu, cemas, khawatir, takut jodoh kita akan
tertukar? Pun, kita bahkan tega "mengintervensi
"-nya dengan pacaran, masih SMA, sudah pacaran,
pegang-pegangan tangan, pangku-pangkuan,
dsbgnya. Ini jadinya paradoks, katanya kita tahu
jodoh itu di tangan Allah, tapi kenapa kita
mengambil-alih situasinya, kalau begitu, jangan-
jangan, jawaban asli kita adalah: jodoh itu di
tangan saya. Ya tidak masalah, boleh-boleh saja,
"jodoh di tangan saya", kita bebas mencari jodoh
dengan cara kita, style kita, toh, banyak yang
dapat.
(II)
Bagaimana kita tahu seseorang itu jodoh terbaik
bagi kita? Maka, lagi-lagi nyaris 100% kita akan
menjawab, hanya Allah yang tahu. Benar, bukan?
Apakah itu jawaban kalian?
Kita tidak pernah tahu apakah sesuatu itu akan
mutlak baik atau mutlak buruk bagi kita. Apakah
seseorang itu akan pas, cocok, langgeng hingga
aki-nini, ajal menjemput, atau besok lusa malah
sebaliknya ternyata hancur berantakan, tidak i
love u lagi. Kita tidak tahu. Hanya Allah yang
tahu. Benar begini kan pemahaman kita? Nah,
lantas kenapa, kita mengotot sekali ingin
seseorang tertentu menjadi jodoh kita? Bukankah
kita tidak tahu apakah dia jodoh terbaik atau
bukan? Kenapa kita dalam doa-doa, bahkan
spesifik sekali menyebut nama seseorang? Kalau
begini, jangan-jangan, jawaban asli kita adalah:
saya tahu persis jodoh terbaik bagi saya. Jadinya
malah bertolak-belakang dong. Tapi boleh? Lagi-
lagi, tidak masalah, boleh-boleh saja punya
pemahaman seperti ini, toh, manusia itu memang
boleh egois. Jika kita yakin sekali itu yang
terbaik, bungkus saja, "tidak perlu melibatkan"
Allah.
(III)
Jika jodoh itu di tangan Allah, yang tahu terbaik
juga adalah Allah, lantas apa yang harus saya
lakukan, dong? Kan sudah given begitu, ngapain
pula saya harus capek-capek nyari lagi. Tinggal
tunggu, datang sendiri, toh, semua takdir Allah.
Nah, ini baru pertanyaan menariknya.
Jawabannya simpel: perbaiki diri sendiri.
Sederhana sekali. Bagaimana mencari jodoh
terbaik? Perbaiki diri sendiri. Kita yang SMA,
masih 16 tahun sudah pacaran, tentu saja level
jodoh "terbaik" kita hanya akan satu SMA itu
saja. Coba kalau kita terus memperbaiki diri,
fokus sekolah, hingga bisa kuliah di LN, di Inggris
misalnya, aduh, kans-nya malah lebih menarik,
jangan-jangan levelnya adalah macam bule Brad
Pitt gitu. Apakah mungkin kalau saya SMA sudah
sibuk pacaran dapat Brad Pitt? Mungkin saja,
asumsi kalau bule Brad Pittnya SMA di kampung,
kota kalian.
Perbaiki diri sendiri, itulah jawaban hakikinya,
termasuk dalam aspek agama. Saat SMA dengan
dangkalnya pengetahuan agama, maka jodoh
terbaik kita, lagi-lagi kelasnya ya hanya anak
SMA. Tapi jika pengetahuan agama kita dalam,
silaturahmi kita luas, bertemulah kita dengan
pilihan-pilihan lebih baik, misalnya si tampan dari
Korea yang agamanya juga baik, bertemu dalam
sebuah organisasi, aktivitas. Atau si ganteng dari
Turki. Perbaiki diri sendiri dalam hal apapun,
termasuk bergaul di dunia maya. Hei, kalau kita di
dunia maya ini cuma asyik di group alay,
bagaimana mungkin kita akan bertemu dengan
jodoh spesies non-alay? Ini hanya contoh, tidak
perlu tersinggung. Perbaiki diri sendiri, maka
rumusnya akan bekerja sendiri.
(IV)
Terakhir, baiklah, saya sudah percaya jodoh itu
ditangan Allah, mana yang baik juga hanya Allah
yang tahu, saya berjanji akan terus memperbaiki
diri. Lantas, apakah itu menjamin saya akan
dapat jodoh terbaik?
Jawabannya: belum tentu.
Hidup ini tidak pernah soal jamin-menjamin.
Apalagi soal jodoh, mana ada garansi resmi dari
Allah selama lima tahun, tunggu lima tahun, pasti
dapat itu jodoh. Nggak begitu hidup ini berjalan.
Boleh jadi, bahkan kita tidak dapat-dapat juga.
Arghh, berarti rugi dong sayanya? Tidak juga.
Ketahuilah, saat kita terus memperbaiki diri,
ketika kita tidak dapat jodoh terbaik, maka
minimal kita dapat: kita sudah semakin baik.
akan menjawab, di tangan Allah. Benar, bukan?
Apakah itu jawaban kalian?
Nah, jika itu jawabannya, mengapa kita ragu-
ragu, cemas, khawatir, takut jodoh kita akan
tertukar? Pun, kita bahkan tega "mengintervensi
"-nya dengan pacaran, masih SMA, sudah pacaran,
pegang-pegangan tangan, pangku-pangkuan,
dsbgnya. Ini jadinya paradoks, katanya kita tahu
jodoh itu di tangan Allah, tapi kenapa kita
mengambil-alih situasinya, kalau begitu, jangan-
jangan, jawaban asli kita adalah: jodoh itu di
tangan saya. Ya tidak masalah, boleh-boleh saja,
"jodoh di tangan saya", kita bebas mencari jodoh
dengan cara kita, style kita, toh, banyak yang
dapat.
(II)
Bagaimana kita tahu seseorang itu jodoh terbaik
bagi kita? Maka, lagi-lagi nyaris 100% kita akan
menjawab, hanya Allah yang tahu. Benar, bukan?
Apakah itu jawaban kalian?
Kita tidak pernah tahu apakah sesuatu itu akan
mutlak baik atau mutlak buruk bagi kita. Apakah
seseorang itu akan pas, cocok, langgeng hingga
aki-nini, ajal menjemput, atau besok lusa malah
sebaliknya ternyata hancur berantakan, tidak i
love u lagi. Kita tidak tahu. Hanya Allah yang
tahu. Benar begini kan pemahaman kita? Nah,
lantas kenapa, kita mengotot sekali ingin
seseorang tertentu menjadi jodoh kita? Bukankah
kita tidak tahu apakah dia jodoh terbaik atau
bukan? Kenapa kita dalam doa-doa, bahkan
spesifik sekali menyebut nama seseorang? Kalau
begini, jangan-jangan, jawaban asli kita adalah:
saya tahu persis jodoh terbaik bagi saya. Jadinya
malah bertolak-belakang dong. Tapi boleh? Lagi-
lagi, tidak masalah, boleh-boleh saja punya
pemahaman seperti ini, toh, manusia itu memang
boleh egois. Jika kita yakin sekali itu yang
terbaik, bungkus saja, "tidak perlu melibatkan"
Allah.
(III)
Jika jodoh itu di tangan Allah, yang tahu terbaik
juga adalah Allah, lantas apa yang harus saya
lakukan, dong? Kan sudah given begitu, ngapain
pula saya harus capek-capek nyari lagi. Tinggal
tunggu, datang sendiri, toh, semua takdir Allah.
Nah, ini baru pertanyaan menariknya.
Jawabannya simpel: perbaiki diri sendiri.
Sederhana sekali. Bagaimana mencari jodoh
terbaik? Perbaiki diri sendiri. Kita yang SMA,
masih 16 tahun sudah pacaran, tentu saja level
jodoh "terbaik" kita hanya akan satu SMA itu
saja. Coba kalau kita terus memperbaiki diri,
fokus sekolah, hingga bisa kuliah di LN, di Inggris
misalnya, aduh, kans-nya malah lebih menarik,
jangan-jangan levelnya adalah macam bule Brad
Pitt gitu. Apakah mungkin kalau saya SMA sudah
sibuk pacaran dapat Brad Pitt? Mungkin saja,
asumsi kalau bule Brad Pittnya SMA di kampung,
kota kalian.
Perbaiki diri sendiri, itulah jawaban hakikinya,
termasuk dalam aspek agama. Saat SMA dengan
dangkalnya pengetahuan agama, maka jodoh
terbaik kita, lagi-lagi kelasnya ya hanya anak
SMA. Tapi jika pengetahuan agama kita dalam,
silaturahmi kita luas, bertemulah kita dengan
pilihan-pilihan lebih baik, misalnya si tampan dari
Korea yang agamanya juga baik, bertemu dalam
sebuah organisasi, aktivitas. Atau si ganteng dari
Turki. Perbaiki diri sendiri dalam hal apapun,
termasuk bergaul di dunia maya. Hei, kalau kita di
dunia maya ini cuma asyik di group alay,
bagaimana mungkin kita akan bertemu dengan
jodoh spesies non-alay? Ini hanya contoh, tidak
perlu tersinggung. Perbaiki diri sendiri, maka
rumusnya akan bekerja sendiri.
(IV)
Terakhir, baiklah, saya sudah percaya jodoh itu
ditangan Allah, mana yang baik juga hanya Allah
yang tahu, saya berjanji akan terus memperbaiki
diri. Lantas, apakah itu menjamin saya akan
dapat jodoh terbaik?
Jawabannya: belum tentu.
Hidup ini tidak pernah soal jamin-menjamin.
Apalagi soal jodoh, mana ada garansi resmi dari
Allah selama lima tahun, tunggu lima tahun, pasti
dapat itu jodoh. Nggak begitu hidup ini berjalan.
Boleh jadi, bahkan kita tidak dapat-dapat juga.
Arghh, berarti rugi dong sayanya? Tidak juga.
Ketahuilah, saat kita terus memperbaiki diri,
ketika kita tidak dapat jodoh terbaik, maka
minimal kita dapat: kita sudah semakin baik.
Kita
bukan lagi si anak SMA dulu, kita sudah menjadi
seseorang yang terus bermanfaat dan senantiasa
berahklak baik.
Dek, dalam banyak situasi, itu jauh lebih penting
dibanding jodohnya itu sendiri. Percayalah.
bukan lagi si anak SMA dulu, kita sudah menjadi
seseorang yang terus bermanfaat dan senantiasa
berahklak baik.
Dek, dalam banyak situasi, itu jauh lebih penting
dibanding jodohnya itu sendiri. Percayalah.
Kegagalan bagian dari kehidupan
Kini, cukup jalani saja peranmu. Toh Tuhan pasti punya rencana tersendiri dibalik kegagalanmu.
Percayalah, Tuhan punya rencana tersendiri untuk suksesmu.
Kalau memang semua yang kamu lakukan kamu rasa berakhir dengan kegagalan, cukup sadari saja jika kegagalan itu bagian dari kehidupan. Tak ada orang didunia ini yang hidup tanpa pernah mengalami yang namanya gagal. Bahkan orang sesukses Bill Gates atau Bob Sadino pun juga pernah gagal dalam usahanya. Tapi apa mereka menyerah? Tidak! Mereka jadi lebih kreatif guna mewujudkan impiannya.
Percayalah Tuhan punya rencana tersendiri untukmu. Rencana yang ia siapkan khusus untuk menyambut kesuksesanmu. Itulah kenapa kamu cukup saja menjalani hidupmu sebagaimana Tuhanmu memerintahkanmu. Jalani saja peranmu sebagai makhluknya. Karena pada akhirnya, Tuhan pasti punya rencana yang indah untuk setiap makhluk yang Ia cipta.
Percayalah, Tuhan punya rencana tersendiri untuk suksesmu.
Kalau memang semua yang kamu lakukan kamu rasa berakhir dengan kegagalan, cukup sadari saja jika kegagalan itu bagian dari kehidupan. Tak ada orang didunia ini yang hidup tanpa pernah mengalami yang namanya gagal. Bahkan orang sesukses Bill Gates atau Bob Sadino pun juga pernah gagal dalam usahanya. Tapi apa mereka menyerah? Tidak! Mereka jadi lebih kreatif guna mewujudkan impiannya.
Percayalah Tuhan punya rencana tersendiri untukmu. Rencana yang ia siapkan khusus untuk menyambut kesuksesanmu. Itulah kenapa kamu cukup saja menjalani hidupmu sebagaimana Tuhanmu memerintahkanmu. Jalani saja peranmu sebagai makhluknya. Karena pada akhirnya, Tuhan pasti punya rencana yang indah untuk setiap makhluk yang Ia cipta.
Kegagalan bagian dari kehidupan
Kini, cukup jalani saja peranmu. Toh Tuhan pasti punya rencana tersendiri dibalik kegagalanmu.
Percayalah, Tuhan punya rencana tersendiri untuk suksesmu.
Kalau memang semua yang kamu lakukan kamu rasa berakhir dengan kegagalan, cukup sadari saja jika kegagalan itu bagian dari kehidupan. Tak ada orang didunia ini yang hidup tanpa pernah mengalami yang namanya gagal. Bahkan orang sesukses Bill Gates atau Bob Sadino pun juga pernah gagal dalam usahanya. Tapi apa mereka menyerah? Tidak! Mereka jadi lebih kreatif guna mewujudkan impiannya.
Percayalah Tuhan punya rencana tersendiri untukmu. Rencana yang ia siapkan khusus untuk menyambut kesuksesanmu. Itulah kenapa kamu cukup saja menjalani hidupmu sebagaimana Tuhanmu memerintahkanmu. Jalani saja peranmu sebagai makhluknya. Karena pada akhirnya, Tuhan pasti punya rencana yang indah untuk setiap makhluk yang Ia cipta.
Percayalah, Tuhan punya rencana tersendiri untuk suksesmu.
Kalau memang semua yang kamu lakukan kamu rasa berakhir dengan kegagalan, cukup sadari saja jika kegagalan itu bagian dari kehidupan. Tak ada orang didunia ini yang hidup tanpa pernah mengalami yang namanya gagal. Bahkan orang sesukses Bill Gates atau Bob Sadino pun juga pernah gagal dalam usahanya. Tapi apa mereka menyerah? Tidak! Mereka jadi lebih kreatif guna mewujudkan impiannya.
Percayalah Tuhan punya rencana tersendiri untukmu. Rencana yang ia siapkan khusus untuk menyambut kesuksesanmu. Itulah kenapa kamu cukup saja menjalani hidupmu sebagaimana Tuhanmu memerintahkanmu. Jalani saja peranmu sebagai makhluknya. Karena pada akhirnya, Tuhan pasti punya rencana yang indah untuk setiap makhluk yang Ia cipta.
Senin, 20 Juni 2016
Langganan:
Postingan (Atom)




