Jodoh itu di tangan siapa? Maka, nyaris 100% kita
akan menjawab, di tangan Allah. Benar, bukan?
Apakah itu jawaban kalian?
Nah, jika itu jawabannya, mengapa kita ragu-
ragu, cemas, khawatir, takut jodoh kita akan
tertukar? Pun, kita bahkan tega "mengintervensi
"-nya dengan pacaran, masih SMA, sudah pacaran,
pegang-pegangan tangan, pangku-pangkuan,
dsbgnya. Ini jadinya paradoks, katanya kita tahu
jodoh itu di tangan Allah, tapi kenapa kita
mengambil-alih situasinya, kalau begitu, jangan-
jangan, jawaban asli kita adalah: jodoh itu di
tangan saya. Ya tidak masalah, boleh-boleh saja,
"jodoh di tangan saya", kita bebas mencari jodoh
dengan cara kita, style kita, toh, banyak yang
dapat.
(II)
Bagaimana kita tahu seseorang itu jodoh terbaik
bagi kita? Maka, lagi-lagi nyaris 100% kita akan
menjawab, hanya Allah yang tahu. Benar, bukan?
Apakah itu jawaban kalian?
Kita tidak pernah tahu apakah sesuatu itu akan
mutlak baik atau mutlak buruk bagi kita. Apakah
seseorang itu akan pas, cocok, langgeng hingga
aki-nini, ajal menjemput, atau besok lusa malah
sebaliknya ternyata hancur berantakan, tidak i
love u lagi. Kita tidak tahu. Hanya Allah yang
tahu. Benar begini kan pemahaman kita? Nah,
lantas kenapa, kita mengotot sekali ingin
seseorang tertentu menjadi jodoh kita? Bukankah
kita tidak tahu apakah dia jodoh terbaik atau
bukan? Kenapa kita dalam doa-doa, bahkan
spesifik sekali menyebut nama seseorang? Kalau
begini, jangan-jangan, jawaban asli kita adalah:
saya tahu persis jodoh terbaik bagi saya. Jadinya
malah bertolak-belakang dong. Tapi boleh? Lagi-
lagi, tidak masalah, boleh-boleh saja punya
pemahaman seperti ini, toh, manusia itu memang
boleh egois. Jika kita yakin sekali itu yang
terbaik, bungkus saja, "tidak perlu melibatkan"
Allah.
(III)
Jika jodoh itu di tangan Allah, yang tahu terbaik
juga adalah Allah, lantas apa yang harus saya
lakukan, dong? Kan sudah given begitu, ngapain
pula saya harus capek-capek nyari lagi. Tinggal
tunggu, datang sendiri, toh, semua takdir Allah.
Nah, ini baru pertanyaan menariknya.
Jawabannya simpel: perbaiki diri sendiri.
Sederhana sekali. Bagaimana mencari jodoh
terbaik? Perbaiki diri sendiri. Kita yang SMA,
masih 16 tahun sudah pacaran, tentu saja level
jodoh "terbaik" kita hanya akan satu SMA itu
saja. Coba kalau kita terus memperbaiki diri,
fokus sekolah, hingga bisa kuliah di LN, di Inggris
misalnya, aduh, kans-nya malah lebih menarik,
jangan-jangan levelnya adalah macam bule Brad
Pitt gitu. Apakah mungkin kalau saya SMA sudah
sibuk pacaran dapat Brad Pitt? Mungkin saja,
asumsi kalau bule Brad Pittnya SMA di kampung,
kota kalian.
Perbaiki diri sendiri, itulah jawaban hakikinya,
termasuk dalam aspek agama. Saat SMA dengan
dangkalnya pengetahuan agama, maka jodoh
terbaik kita, lagi-lagi kelasnya ya hanya anak
SMA. Tapi jika pengetahuan agama kita dalam,
silaturahmi kita luas, bertemulah kita dengan
pilihan-pilihan lebih baik, misalnya si tampan dari
Korea yang agamanya juga baik, bertemu dalam
sebuah organisasi, aktivitas. Atau si ganteng dari
Turki. Perbaiki diri sendiri dalam hal apapun,
termasuk bergaul di dunia maya. Hei, kalau kita di
dunia maya ini cuma asyik di group alay,
bagaimana mungkin kita akan bertemu dengan
jodoh spesies non-alay? Ini hanya contoh, tidak
perlu tersinggung. Perbaiki diri sendiri, maka
rumusnya akan bekerja sendiri.
(IV)
Terakhir, baiklah, saya sudah percaya jodoh itu
ditangan Allah, mana yang baik juga hanya Allah
yang tahu, saya berjanji akan terus memperbaiki
diri. Lantas, apakah itu menjamin saya akan
dapat jodoh terbaik?
Jawabannya: belum tentu.
Hidup ini tidak pernah soal jamin-menjamin.
Apalagi soal jodoh, mana ada garansi resmi dari
Allah selama lima tahun, tunggu lima tahun, pasti
dapat itu jodoh. Nggak begitu hidup ini berjalan.
Boleh jadi, bahkan kita tidak dapat-dapat juga.
Arghh, berarti rugi dong sayanya? Tidak juga.
Ketahuilah, saat kita terus memperbaiki diri,
ketika kita tidak dapat jodoh terbaik, maka
minimal kita dapat: kita sudah semakin baik.
akan menjawab, di tangan Allah. Benar, bukan?
Apakah itu jawaban kalian?
Nah, jika itu jawabannya, mengapa kita ragu-
ragu, cemas, khawatir, takut jodoh kita akan
tertukar? Pun, kita bahkan tega "mengintervensi
"-nya dengan pacaran, masih SMA, sudah pacaran,
pegang-pegangan tangan, pangku-pangkuan,
dsbgnya. Ini jadinya paradoks, katanya kita tahu
jodoh itu di tangan Allah, tapi kenapa kita
mengambil-alih situasinya, kalau begitu, jangan-
jangan, jawaban asli kita adalah: jodoh itu di
tangan saya. Ya tidak masalah, boleh-boleh saja,
"jodoh di tangan saya", kita bebas mencari jodoh
dengan cara kita, style kita, toh, banyak yang
dapat.
(II)
Bagaimana kita tahu seseorang itu jodoh terbaik
bagi kita? Maka, lagi-lagi nyaris 100% kita akan
menjawab, hanya Allah yang tahu. Benar, bukan?
Apakah itu jawaban kalian?
Kita tidak pernah tahu apakah sesuatu itu akan
mutlak baik atau mutlak buruk bagi kita. Apakah
seseorang itu akan pas, cocok, langgeng hingga
aki-nini, ajal menjemput, atau besok lusa malah
sebaliknya ternyata hancur berantakan, tidak i
love u lagi. Kita tidak tahu. Hanya Allah yang
tahu. Benar begini kan pemahaman kita? Nah,
lantas kenapa, kita mengotot sekali ingin
seseorang tertentu menjadi jodoh kita? Bukankah
kita tidak tahu apakah dia jodoh terbaik atau
bukan? Kenapa kita dalam doa-doa, bahkan
spesifik sekali menyebut nama seseorang? Kalau
begini, jangan-jangan, jawaban asli kita adalah:
saya tahu persis jodoh terbaik bagi saya. Jadinya
malah bertolak-belakang dong. Tapi boleh? Lagi-
lagi, tidak masalah, boleh-boleh saja punya
pemahaman seperti ini, toh, manusia itu memang
boleh egois. Jika kita yakin sekali itu yang
terbaik, bungkus saja, "tidak perlu melibatkan"
Allah.
(III)
Jika jodoh itu di tangan Allah, yang tahu terbaik
juga adalah Allah, lantas apa yang harus saya
lakukan, dong? Kan sudah given begitu, ngapain
pula saya harus capek-capek nyari lagi. Tinggal
tunggu, datang sendiri, toh, semua takdir Allah.
Nah, ini baru pertanyaan menariknya.
Jawabannya simpel: perbaiki diri sendiri.
Sederhana sekali. Bagaimana mencari jodoh
terbaik? Perbaiki diri sendiri. Kita yang SMA,
masih 16 tahun sudah pacaran, tentu saja level
jodoh "terbaik" kita hanya akan satu SMA itu
saja. Coba kalau kita terus memperbaiki diri,
fokus sekolah, hingga bisa kuliah di LN, di Inggris
misalnya, aduh, kans-nya malah lebih menarik,
jangan-jangan levelnya adalah macam bule Brad
Pitt gitu. Apakah mungkin kalau saya SMA sudah
sibuk pacaran dapat Brad Pitt? Mungkin saja,
asumsi kalau bule Brad Pittnya SMA di kampung,
kota kalian.
Perbaiki diri sendiri, itulah jawaban hakikinya,
termasuk dalam aspek agama. Saat SMA dengan
dangkalnya pengetahuan agama, maka jodoh
terbaik kita, lagi-lagi kelasnya ya hanya anak
SMA. Tapi jika pengetahuan agama kita dalam,
silaturahmi kita luas, bertemulah kita dengan
pilihan-pilihan lebih baik, misalnya si tampan dari
Korea yang agamanya juga baik, bertemu dalam
sebuah organisasi, aktivitas. Atau si ganteng dari
Turki. Perbaiki diri sendiri dalam hal apapun,
termasuk bergaul di dunia maya. Hei, kalau kita di
dunia maya ini cuma asyik di group alay,
bagaimana mungkin kita akan bertemu dengan
jodoh spesies non-alay? Ini hanya contoh, tidak
perlu tersinggung. Perbaiki diri sendiri, maka
rumusnya akan bekerja sendiri.
(IV)
Terakhir, baiklah, saya sudah percaya jodoh itu
ditangan Allah, mana yang baik juga hanya Allah
yang tahu, saya berjanji akan terus memperbaiki
diri. Lantas, apakah itu menjamin saya akan
dapat jodoh terbaik?
Jawabannya: belum tentu.
Hidup ini tidak pernah soal jamin-menjamin.
Apalagi soal jodoh, mana ada garansi resmi dari
Allah selama lima tahun, tunggu lima tahun, pasti
dapat itu jodoh. Nggak begitu hidup ini berjalan.
Boleh jadi, bahkan kita tidak dapat-dapat juga.
Arghh, berarti rugi dong sayanya? Tidak juga.
Ketahuilah, saat kita terus memperbaiki diri,
ketika kita tidak dapat jodoh terbaik, maka
minimal kita dapat: kita sudah semakin baik.
Kita
bukan lagi si anak SMA dulu, kita sudah menjadi
seseorang yang terus bermanfaat dan senantiasa
berahklak baik.
Dek, dalam banyak situasi, itu jauh lebih penting
dibanding jodohnya itu sendiri. Percayalah.
bukan lagi si anak SMA dulu, kita sudah menjadi
seseorang yang terus bermanfaat dan senantiasa
berahklak baik.
Dek, dalam banyak situasi, itu jauh lebih penting
dibanding jodohnya itu sendiri. Percayalah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar